Desa Jenggotan

Sejenak ketika mendengar nama Desa Jinggotan, pikiran akan tertuju pada kata jenggot, kemudian akan  terbayang sosok dengan jenggot tumbuh lebat di wajahnya. Namun, ternyata keliru, sebab nama Jenggotan diambil dari salah satu murid Sunan Muria, yakni Ki Ageng Jenggot.

Awal kisah ini bermula ketika Dewi Wiji, putri dari Ki Gede Bangsri, meminta pertolongan kepada Ki Ageng Jenggot untuk bersembunyi di rumahnya dari kejaran Ki Suro Gotho sebab diminta untuk menjadi istrinya. Padahal, Ki Suro Gotho adalah sahabat ayahnya bahkan saudara sepeguruan, begitu pula dengan Ki Ageng Jenggot.

Sayang, usaha Ki Ageng Jenggot untuk melindungi Dewi Wiji, sia-sia. Dirinya gugur membela kebenaran  di tangan Ki Suro Gotho dengan berbagai tipu muslihat yang diciptakannya. Tempat kejadian inilah sampai sekarang terkenal dengan nama Jenggotan.

Posisi desa Jinggotan berada di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Nama Kembang sendiri diambil dari salah satu dukuh di Desa Jinggotan yaitu dukuh Kembang, yang kabarnya dipilih sendiri oleh Bupati untuk diabadikan sebagai nama kecamatan baru, hasil  pemekaran dari Kecamatan Bangsri.

Desa yang tipologinya sebagian besar adalah hutan ini, terdiri dari lima dukuh diantaranya  Segawe, Kembang, Tretes, Segembul, dan Jinggotan. Jarak antara dukuh yang satu dan yang lainnya terhitung cukup jauh. Namun, desa jinggotan memiliki keuntungan, yaitu desa yang akses ke jalan utama (jalan raya) paling gampang dibandingkan desa lainnya di  Kecamatan Kembang.

Mengenai birokrasi desa, pemimpin desa yang lumrah disebut sebagai kepala desa, dikenal dengan sebutan pak petinggi atau panggilan akrabnya pak inggi, dan saat ini pejabat desa Jinggotan terdiri dari 13 orang, termasuk petinggi, 1 orang TU, dan 11 orang perangkat desa. Warga desanya  kebanyakan berprofesi sebagai PNS, yang menurut cerita pak Sulkhan, selaku mudin desa, ini disebabkan sesepuh warga desa pada zaman dulu merupakan bagian dari pejabat kerajaan, namun menurut informasi dari pak Inggi tidak sedikit pula warga yang menggantungkan hidupnya dari bertani dan menjadi buruh tani dan yang memelihara hewan ternak di sekitar pekarangan rumahnya seperti sapi, ayam, dan kambing.

Kegiatan  ekonomi warga juga tidak hanya sebatas itu,  diantaranya ada yang membuat home industry di bidang makanan, seperti membuat kerupuk ikan, ceriping pisang, kerupuk rambak, dan makanan (snacklainnya) yang membuat add value bagi desa ini karena memanfaatkan SDA nya dalam rangka mengembangkan potensi desa.

Potensi desa lainnya yang tidak kalah menarik adalah hadirnya komunitas seni Sekar Gandrung. Komunitas ini menampilkan pertunjukkan ketoprak yang telah mengalami modifikasi, artinya terdapat kombinasi pertunjukkan langsung dengan rekaman yang dikemas dalam satu kesatuan perform yang disuguhkan kepada penonton. Inovasi ini muncul dan berkembang dengan harapan agar budaya lokal tetap lestari.